Bunda, saat menyusui, rasa nyeri atau bengkak di payudara sering kali jadi keluhan yang membuat khawatir. Tapi tahukah Bunda, kondisi ini bisa disebabkan oleh dua hal yang berbeda, yaitu mastitis atau pembengkakan payudara biasa.
Keduanya memang sama-sama membuat tidak nyaman, tapi penanganannya bisa sangat berbeda. Jangan sampai keliru, karena mengenali perbedaan mastitis dan payudara bengkak sejak awal sangat penting untuk menjaga kesehatan Bunda dan kelancaran proses menyusui. Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini agar Bunda bisa memahami ciri khas masing-masing kondisi dan tahu langkah apa yang tepat untuk dilakukan.
Baca Juga: Cara Mengencangkan Payudara Setelah Melahirkan yang Ampuh
Apa Itu Mastitis?

Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara yang biasanya terjadi saat Bunda sedang menyusui. Kondisi ini bisa disebabkan oleh saluran ASI yang tersumbat atau infeksi bakteri yang masuk melalui puting yang lecet. Gejala mastitis bisa berupa payudara yang terasa sangat nyeri, merah, bengkak, terasa hangat saat disentuh, dan sering kali disertai demam serta badan lemas. Jika tidak ditangani dengan baik, mastitis bisa membuat proses menyusui menjadi sangat tidak nyaman dan bahkan menurunkan produksi ASI
Perbedaan Mastitis dan Payudara Bengkak

Bunda, meski sama-sama menyebabkan nyeri dan rasa tidak nyaman saat menyusui, mastitis dan payudara bengkak sebenarnya adalah dua kondisi yang berbeda. Berikut beberapa perbedaan yang bisa Bunda ketahui:
1. Penyebabnya Berbeda
Mastitis terjadi ketika jaringan payudara mengalami infeksi, biasanya akibat masuknya bakteri dari puting yang lecet atau terluka. Infeksi ini dapat terjadi saat Bunda menyusui, terutama jika pelekatan bayi kurang tepat atau ASI tidak dikeluarkan dengan maksimal. Bakteri yang masuk berkembang biak di saluran ASI yang tersumbat, lalu memicu peradangan.
Berbeda dengan mastitis, payudara bengkak biasanya disebabkan oleh penumpukan ASI yang tidak dikeluarkan secara rutin. Ini bisa terjadi saat Bunda jarang menyusui, produksi ASI terlalu banyak, atau bayi tidak menyusu secara efektif. Jadi, walaupun sama-sama membuat payudara terasa nyeri, penyebab keduanya sangat berbeda dan tidak boleh disamakan.
2. Tingkat Nyeri dan Gejala
Mastitis ditandai dengan nyeri yang cukup tajam, disertai rasa panas dan kemerahan pada bagian tertentu di payudara. Selain itu, Bunda juga bisa mengalami gejala tambahan seperti demam, menggigil, dan merasa sangat lelah seperti sedang flu. Gejala ini membuat mastitis terasa jauh lebih mengganggu daripada sekadar pembengkakan biasa.
Sementara itu, payudara bengkak biasanya menyebabkan rasa nyeri yang lebih tumpul. Payudara terasa keras, tegang, dan penuh, tapi tidak disertai demam atau rasa nyeri menusuk. Pembengkakan ini terasa tidak nyaman, namun umumnya akan membaik setelah Bunda menyusui atau memompa ASI secara rutin.
3. Penanganan yang Dilakukan
Mastitis umumnya memerlukan penanganan medis karena termasuk infeksi yang bisa memburuk jika dibiarkan terlalu lama. Bunda mungkin akan diberi antibiotik oleh dokter untuk mengatasi bakteri penyebab infeksi. Meskipun terasa nyeri, Bunda tetap dianjurkan menyusui agar ASI tetap keluar dan tidak memperparah peradangan.
Di sisi lain, payudara bengkak tidak memerlukan pengobatan khusus. Kondisi ini biasanya membaik dengan menyusui lebih sering, memastikan pelekatan bayi tepat, serta melakukan pijatan lembut. Kompres hangat sebelum menyusui dan kompres dingin setelahnya juga bisa membantu mengurangi rasa tidak nyaman dan mengatasi pembengkakan secara alami.
4. Dampak terhadap Proses Menyusui
Mastitis yang tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan nyeri yang sangat parah hingga membuat Bunda merasa malas menyusui. Rasa sakit yang terus-menerus dapat menurunkan semangat dan menyebabkan produksi ASI menurun. Bahkan dalam kasus parah, mastitis bisa berkembang menjadi abses yang memerlukan tindakan medis lebih lanjut.
Sementara itu, payudara bengkak sebenarnya bisa menjadi sinyal bahwa tubuh sedang memproduksi ASI dalam jumlah cukup banyak. Jika ditangani sejak awal dengan menyusui rutin dan teknik menyusui yang tepat, pembengkakan ini justru bisa memperlancar aliran ASI. Dengan begitu, proses menyusui akan terasa lebih nyaman dan menyenangkan untuk Bunda.
Baca Juga: Cara Penyimpanan ASI dengan Kantong ASI dan Cooler Bag GabaG
Kapan Harus ke Dokter?
Bunda sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter jika mengalami gejala mastitis yang makin parah atau tak kunjung membaik setelah beberapa hari. Misalnya, ketika payudara terasa sangat nyeri, disertai kemerahan yang meluas, demam tinggi, atau tubuh terasa sangat lemas. Jika Bunda sudah mencoba menyusui lebih sering atau memompa ASI namun pembengkakan tetap tidak berkurang, itu juga bisa menjadi tanda ada infeksi atau penyumbatan yang lebih serius.
Itulah beberapa perbedaan mastitis dan payudara bengkak yang bisa Bunda ketahui. Dengan memahami perbedaan ini dapat membantu Bunda lebih tenang saat menghadapi keluhan pada payudara selama menyusui, dan tahu kapan harus segera mencari bantuan medis.





