Bunda pernah mencium aroma yang berbeda pada ASI perah dan langsung khawatir? Tenang, kondisi ASI bau amis ternyata cukup sering dialami oleh ibu menyusui. Banyak Bunda mengira ASI sudah basi atau tidak layak diberikan kepada bayi ketika mencium aroma amis yang cukup kuat. Padahal, tidak selalu demikian. Dalam banyak kasus, ASI bau amis masih aman dikonsumsi oleh Si Kecil selama penyebabnya bukan karena kontaminasi bakteri atau penyimpanan yang salah.
Baca juga: 10 Ciri-Ciri ASI Basi
Menariknya, ASI bau amis bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kandungan alami dalam ASI, makanan yang Bunda konsumsi, hingga cara penyimpanannya. Karena itu, sebelum panik dan membuang stok ASI perah, ada baiknya Bunda memahami terlebih dahulu apa saja penyebabnya. Dengan mengetahui penyebab ASI bau amis, Bunda bisa lebih tenang dan mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kualitas ASI tetap optimal bagi buah hati.
Pada dasarnya, aroma ASI memang bisa berubah seiring waktu. Bahkan setiap ibu menyusui bisa memiliki aroma ASI yang berbeda-beda. Selama bayi tetap mau menyusu dan tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan, perubahan aroma ASI sering kali masih termasuk kondisi normal. Namun tentu saja, memahami penyebab ASI bau amis tetap penting agar Bunda tidak bingung ketika mengalaminya.
Penyebab ASI Bau Amis

1. Kadar Enzim Lipase yang Tinggi
Salah satu penyebab paling umum ASI bau amis adalah kadar enzim lipase yang tinggi di dalam ASI. Lipase merupakan enzim alami yang berfungsi membantu memecah lemak sehingga lebih mudah dicerna oleh bayi. Kehadiran enzim ini sangat penting karena membantu Si Kecil mendapatkan nutrisi secara maksimal dari ASI yang diminumnya. Namun pada beberapa ibu, aktivitas lipase bisa lebih tinggi dibandingkan ibu lainnya sehingga menyebabkan perubahan aroma setelah ASI disimpan beberapa jam atau beberapa hari.
Ketika ASI disimpan di kulkas atau freezer, lipase tetap bekerja memecah lemak yang ada di dalam ASI. Proses inilah yang kemudian dapat menghasilkan aroma menyerupai sabun, logam, atau amis. Kondisi ini bukan berarti ASI rusak atau basi. Bahkan sebagian besar bayi tetap bisa mengonsumsinya tanpa masalah. Hanya saja, beberapa bayi yang sensitif terhadap perubahan rasa dan aroma mungkin menjadi lebih pilih-pilih saat minum ASI perah yang mengalami perubahan tersebut.
Baca juga: 7 Perbedaan ASI Basi VS ASI Segar
2. Makanan yang Bunda Konsumsi
Apa yang Bunda makan setiap hari ternyata juga bisa memengaruhi aroma dan rasa ASI. Beberapa jenis makanan dengan aroma yang kuat seperti ikan laut, bawang putih, bawang bombai, rempah-rempah tertentu, hingga suplemen khusus dapat memberikan perubahan aroma pada ASI. Tidak heran jika setelah mengonsumsi makanan tertentu, Bunda merasa aroma ASI menjadi sedikit berbeda dari biasanya.
Hal ini terjadi karena senyawa dari makanan yang dikonsumsi dapat masuk ke dalam ASI dalam jumlah kecil. Meski demikian, kondisi ini umumnya tidak berbahaya. Bahkan beberapa ahli menyebutkan bahwa variasi rasa dan aroma ASI dapat membantu bayi mengenal berbagai rasa makanan sejak dini. Jadi, jika ASI bau amis muncul setelah Bunda mengonsumsi jenis makanan tertentu, kondisi tersebut biasanya masih tergolong normal dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
3. Teknik Penyimpanan ASI yang Kurang Tepat
Cara menyimpan ASI sangat berpengaruh terhadap kualitas, rasa, dan aromanya. Banyak Bunda tidak menyadari bahwa penyimpanan yang kurang tepat bisa menjadi penyebab ASI bau amis. Misalnya, ASI yang terlalu lama disimpan di kulkas, sering mengalami perubahan suhu, atau tidak segera dimasukkan ke tempat penyimpanan setelah diperah.
Saat ASI didinginkan, kandungan lemak akan naik ke bagian atas sehingga membentuk lapisan yang lebih kental. Semakin lama ASI disimpan, perubahan komposisi ini dapat memengaruhi aroma yang tercium ketika ASI dicairkan kembali. Karena itu, penting bagi Bunda untuk mengikuti panduan penyimpanan ASI sesuai suhu dan waktu yang direkomendasikan agar kualitas ASI tetap terjaga dengan baik.
Baca juga: Pilih FIFO atau LIFO untuk ASI?
4. Proses Oksidasi Lemak dalam ASI
Penyebab berikutnya adalah proses oksidasi yang terjadi secara alami pada lemak di dalam ASI. Oksidasi terjadi ketika molekul lemak berinteraksi dengan oksigen selama proses penyimpanan. Reaksi ini dapat menghasilkan perubahan aroma yang terkadang menyerupai bau amis atau tengik meskipun ASI sebenarnya masih layak dikonsumsi.
Baca juga: 7 Makanan untuk Memperbanyak ASI Bagi Ibu Menyusui
Faktor seperti paparan cahaya, suhu penyimpanan, serta lamanya ASI disimpan dapat mempercepat proses oksidasi. Karena itu, Bunda disarankan menggunakan wadah penyimpanan yang tertutup rapat dan menyimpan ASI di tempat yang sesuai. Dengan cara ini, risiko perubahan aroma akibat oksidasi dapat diminimalkan sehingga kualitas ASI tetap terjaga lebih lama.
5. Peralatan Pompa dan Wadah Penyimpanan yang Kurang Higienis
Kebersihan alat pumping dan wadah penyimpanan juga memegang peranan penting dalam menjaga kualitas ASI. Jika pompa ASI, botol, atau kantong penyimpanan tidak dibersihkan dengan baik, bakteri dapat berkembang dan menyebabkan perubahan aroma yang tidak sedap. Dalam kondisi tertentu, aroma amis yang muncul bisa menjadi tanda bahwa ASI telah terkontaminasi dan tidak lagi aman diberikan kepada bayi.
Karena itu, Bunda perlu memastikan semua perlengkapan menyusui dicuci dan disterilkan sesuai petunjuk penggunaan. Selain menjaga kebersihan alat, pastikan juga wadah penyimpanan yang digunakan memang dirancang khusus untuk ASI. Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga kualitas ASI sekaligus mencegah munculnya bau yang tidak diinginkan.
Baca juga: Pompa ASI Manual vs Pompa ASI Elektrik, Apa Bedanya?
Pada akhirnya, ASI bau amis tidak selalu berarti ASI basi atau tidak layak diberikan kepada bayi. Banyak faktor alami yang dapat menyebabkan perubahan aroma pada ASI, mulai dari enzim lipase, makanan yang dikonsumsi, hingga proses penyimpanan. Yang terpenting, Bunda memahami penyebabnya dan memastikan ASI disimpan dengan cara yang benar.
Jika bayi tetap mau minum dan tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan, Bunda tidak perlu terlalu khawatir. Namun bila aroma ASI sangat menyengat, disertai perubahan warna yang tidak biasa, atau muncul tanda-tanda kontaminasi, sebaiknya segera konsultasikan dengan konsultan laktasi atau tenaga kesehatan terpercaya. Dengan pengetahuan yang tepat, Bunda bisa tetap tenang dan memberikan ASI terbaik untuk Si Kecil setiap hari. Semangat mengASIhi ya Bunda!.





