Berdasarkan laporan WHO di tahun 2024 hanya 44% bayi global mendapat ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Padahal, Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi paling ideal untuk bayi, memberikan perlindungan terhadap penyakit dan mendorong perkembangan optimal sejak dini.
World Breastfeeding Week (WBW) yang diperingati setiap 1–7 Agustus menjadi momen global untuk meningkatkan kesadaran, menyatukan dukungan, dan mendorong aksi nyata dalam mendukung praktik menyusui. Tidak hanya penting untuk kesehatan ibu dan anak, menyusui juga berkontribusi dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030, seperti pengentasan kemiskinan, pengurangan kematian bayi, dan ketahanan pangan.
Tahun 2025, tema WBW diprediksi akan berfokus pada “Menyusui dalam Krisis Iklim dan Bencana”, isu yang kian relevan di tengah perubahan iklim ekstrem, migrasi, dan krisis kemanusiaan.
Dari Deklarasi Innocenti hingga Aksi Global: Mengapa WBW Penting?
World Breastfeeding Week dimulai sejak 1992, digagas oleh World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) sebagai respons atas Deklarasi Innocenti (1990) yang menyerukan pentingnya perlindungan, promosi, dan dukungan menyusui.
Mengapa WBW relevan hingga kini?
- ASI mencegah 1 dari 8 kematian bayi akibat infeksi saluran pernapasan dan diare.
- Menyusui eksklusif selama 6 bulan terbukti meningkatkan IQ dan pendapatan masa depan anak.
- WBW menyatukan lebih dari 170 negara, melibatkan komunitas, profesional kesehatan, pemerintah, dan LSM.
Manfaat ASI bukan hanya pada aspek kesehatan, tapi juga ekonomi dan lingkungan. Produksi susu formula membutuhkan air, energi, dan menghasilkan emisi karbon. Menyusui adalah solusi alami dan berkelanjutan.
Tema WBW 2025: Menyusui di Tengah Krisis Iklim
[Tema WBW 2025]: Membongkar Tantangan Baru
Meskipun tema resmi WBW 2025 belum diumumkan per 6 Agustus 2025, berbagai organisasi menyuarakan fokus pada:
“Breastfeeding in Emergencies: Climate-Resilient Nutrition for the Future.”
Berdasarkan laporan UNICEF 2024, lebih dari 20 juta ibu di wilayah bencana kesulitan mengakses air bersih, listrik, dan nutrisi tambahan untuk menyusui.
Tantangan utama:
- Pemadaman listrik mengganggu penggunaan pompa ASI.
- Krisis air bersih menyulitkan pembuatan susu formula dengan aman.
- Tempat pengungsian yang tidak ramah ibu menyusui.
Solusi inovatif:
- Breastfeeding Emergency Kits: berisi pompa manual, suplemen ibu, dan penutup menyusui.
- Pelatihan relawan darurat untuk mendukung laktasi.
Kampanye ini menekankan bahwa menyusui harus menjadi bagian dari respon bencana, bukan sekadar pilihan pribadi.
Terobosan Terkini: Regulasi dan Teknologi Pendukung Ibu Menyusui
1. Kebijakan Cuti Melahirkan yang Lebih Inklusif
Di tahun 2025:
- Jepang memperpanjang cuti melahirkan menjadi 12 bulan.
- Indonesia sedang mengkaji cuti ayah selama 1 bulan untuk mendukung ibu menyusui.
- Uni Eropa mengimplementasikan kebijakan ruang laktasi wajib di tempat kerja dengan >50 karyawan.
2. Teknologi Laktasi 4.0
- Aplikasi Laktasi AI-Based: seperti LactaCare yang menganalisis pola menyusui dan memberi saran personalisasi.
- Pompa ASI wearable: memudahkan ibu menyusui sambil bekerja.
- e-Konseling Laktasi: membantu ibu di daerah terpencil melalui telemedisin.
Kebijakan menyusui 2025 tidak hanya berbicara tentang cuti, tapi juga sistem pendukung menyeluruh dari rumah sakit, tempat kerja, hingga komunitas.
7 Aksi Nyata untuk Dukung WBW 2025
Ingin ikut serta merayakan dan mendukung WBW 2025? Berikut beberapa langkah nyata yang bisa dilakukan siapa saja:
- Ikut webinar atau workshop gratis tentang menyusui.
- Bagikan pengalaman menyusui di media sosial dengan tagar #WBW2025.
- Donor ASI ke bank ASI lokal atau RS bersalin.
- Dukung teman/keluarga ibu menyusui dengan empati, bukan stigma.
- Ajukan ruang laktasi di kantor/tempat umum.
- Bergabung sebagai relawan WABA atau komunitas lokal.
- Advokasi kebijakan publik yang melindungi hak ibu menyusui.
Kegiatan WBW 2025 telah direncanakan di berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan. Cek agenda resmi di waba.org.my.
Studi Kasus: Ibu di Jakarta yang Mengubah Kebijakan Kantor
Rina, seorang ibu dua anak dari Bandung, mengajukan proposal penyediaan ruang laktasi di tempat kerjanya yang juga sebuah kantor swasta bidang teknologi. Setelah 3 bulan kampanye internal dan dukungan dari HR, ruang laktasi pertama di kantor tersebut resmi dibuka pada Januari 2025.
Kini, tempat kerja itu bukan hanya menyediakan fasilitas, tapi juga memberikan fleksibilitas jam kerja bagi ibu menyusui. Kisah Rina menjadi viral di LinkedIn dan menginspirasi 10 perusahaan lain mengikuti langkah serupa.
Menyusui bukan hanya keputusan pribadi, ini adalah tanggung jawab kolektif. Dari rumah hingga kantor, dari komunitas hingga pemerintah, semua pihak memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung ibu dan bayi.
World Breastfeeding Week 2025 mengingatkan kita bahwa perlindungan terhadap menyusui adalah perlindungan terhadap masa depan manusia.





